Rabu, 02 Mei 2012

Kurangnya Kemauan Politik dan Alokasi Anggaran untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan



Oleh : Rahayuningtyas
Pemerintah sebenarnya sudah memiliki dasar hokum yang jelas tentang kewajiban memebrikan pelayanan untuk masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan (UU No. 36/2009 pasal 3). Selain itu ketetapan tentang anggaran kesehatan juga sudah di atur baik untuk pemerintah pusat, yaitu sebesar 5% dari total APBN untuk kesehatan diluar gaji dan 10% untuk pemerintah daerah diluar gaji.
Alokasi anggaran kesehatan reproduksi perempuan dapat dilihat melalui identifikasi program dan kegiatan yang berhubungan dengan penurunan AKI.  Dari 6 Kabupaten dan 1 Kota yang diteliti, hanya Jembrana (10%) dan Lebak (10,7%) yang menjalankan mandate UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan.  Daerah lainnya menjadikan PAD dan DBH yang kecil dan hanya mengandalkan DAU untuk memenuhi kebutuhan daerah sebagai alasan tidak dapat menjalankan amanah UU tersebut. Hal ini menjadi ironi sebab Lombok Tengah, Sumba Barat, dan Lampung Utara memiliki kemampuan fiscal yang sama denagn Jembrana dan Lebak, Bahkan lebih ironis lagi, Surakarta dan Insramayu  yang kemampuannya dua kali lipat dari Jembrana dan Lebak, mengaku tidak mampu menjalankan amanah UU tersebut. Jadi dapat diketahui bahwa yang dapat menyelamatkan hidup perempuan miskin adalah kemampuan politik pemerintah dalam memenuhi mandate UU Kesehatan, bukan DAU atau PAD.

Kabupaten Lampung Utara

Dalam APBD Kabupaten Lampun Utara, Anggaran untuk kesehatan hanya sebesar 8% dari totalnya, angka tersebut belum memenuhi mandat UU kesehatan. Ditambah lagi anggaran kesehatan per kapita sebesar Rp.75.000,- yang juga belum memenuhi standar MDGs Rp.120.000,- per kapita.
Dari 8% anggaran tersebut, dana yang dikhususkan untuk keselamatan ibu melahirkan dan anak hanya Rp.27 juta atau 0.06% dari total APBD. Karena berada di bawah pelayanan kesehatan, maka kesehatan reproduksi perempuan juga menerima alokasi dana dari anggaran program KB dan kesejahteraan keluarga sebesar Rp 211,9 juta.

Kabupaten Lebak

Diantara 7 kabupaten/kota tempat dilakukannya penelitian, Kabupaten Lebak memiliki anggaran kesehatan paling besar yaitu sebesar Rp.75,6 milyar (10,7% dari APBD) atau Rp.64.319 per kapita. Angka tersebut memang sudah memenuhi mandate UU kesehatan namun belum memenuhi target MDGs. Berdasarkan penelitian selanjutnya ternyata angka ini digunakan untuk memenuhi 3 aspek yaitu pelayanan kesehatan, RSUD dan Puskesmas, artinya mereka membutuhkan dana pegawai administrasi mencapai Rp11,2 milyar. Alokasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat hanya sebesar Rp.45 milyar.
Pemerintah Kabupaten Lebak menggunakan lebih dari setengah anggaran kesehatan di luar program untuk kebutuhan perbaikan infrastruktur RSUD.  Hal ini menunjukkan pemerintah kurang memprioritaskan peningkatan pelayanan kesehatan. Namun demikian, pemerintah Lebak cukup memperhatikan masalah kesehatan reproduksi perempuan. Terbukti dengan adanya alokasi sebesar Rp.900 juta untuk program kesehatan reproduksi perempuan.

Kabupaten Indramayu

Pemerintah Kabupaten Indramayu mengalokasikan Rp.73,6 milyar (7,3% APBD) untuk anggaran kesehatan atau secara per kapita Rp.41.838,-. Hal ini belum memenuhi standar, baik UU kesehatan maupun target MDGs. Dari alokasi kesehatan yang digunakan untuk menurunkan AKI sebesar Rp.18 juta dari total anggaran kesehatan. Pemerintah Kab. Indramayu juga memberikan alokasi lain untuk kesehatan reproduksi perempuan termasuk KB sebesar Rp.1,034 milyar.

Kota Surakarta

Kota Surakarta mengalokasikan dana APBD nya untuk kesehatan sebesar Rp.37 milyar (5,8%) atau secara per kapita Rp.65.934,-. Anggaran yang dikhususkan untuk menurunkan AKI sebesar Rp.441 juta. Selain itu pemerintah juga mengalokasikan dana untuk peningkatan kesehatan reproduksi perempuan sebesar Rp.493 juta.

Kabupaten Jembrana

Kabupaten Jembrana sudah memenuhi mandate UU kesehatan sekaligus memenuhi target MDGs, dimana Kabupaten ini mengalokasikan dana APBD Rp.38,8 milyar (10%) atau Rp.151.043 per kapita. Dari angka ini, penggunaan untuk menurunkan AKI sebesar Rp.300 juta. Selain itu dana untuk peningkatan kesehatan reproduksi perempuan sebesar Rp.170 juta.

Kabupaten Lombok Tengah

Rp.42,7 milyar atau sebesar 7,1% dana APBD digunakan Kabupaten Lombok Tengah untuk anggaran kesehatan, artinya secara per kapita Rp.57.740,-. Angka ini belum memenuhi mandate UU sekaligus target MDGs. Sayangnya, sana ini pun tidak ada alokasi khusus untuk penurunan AKI. Perhatian pemerintah daerah terkait kesehatan reproduksi perempuan juga masih sangat rendah, terbukti dengan tidak adanya dana untuk peningkatan kesehatan reproduksi perempuan termasuk KB.

Kabupaten Sumba Barat

Kabupaten Sumba Barat mengalokasikan dana APBD Rp.38 milyar (9%) atau Rp.95.182 per kapita. Dari angka ini, tidak ada anggaran khusus untuk menurunkan AKI. Namun demikian, pemerintah Kabupaten Sumba Barat memberikan dana untuk peningkatan kesehatan reproduksi perempuan sebesar Rp.493 juta.

Angka Kematian Ibu Tetap Tinggi di Indonesia



Terjadi perbedaan pencatatan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia antara Bapperan (310 untuk tahun 2000-2007), UNICEF dan UNFPA (420 tahun 2005). Walaupun Bappenas menyatakan Aki di Indonesia terus menurun sejak 2002 sampai 2008, Bappenas menyatakan Indonesia sulit mencapay target MDGs menurunkan AKI di tahun 2015 sebesar 102.
Pemerintah Indonesia memang telah mengesahkan AKI yang dikeluarkan oleh Bappenas, kalangan LSM cenderung mempercayai lembaga internasional yang menggunakan metode yang berlaku secara internasional.
Berdasarkan hasil SDKI tahun 2008 menunjukan penyebab tertinggi Aki di Indonesia adalah pendarahan (28%) dan eklamsia (24%). Terdapat tiga jenis keterlambatan yang menyebabkan kematian ibu, yaitu :
1.      Terlambat mengenali tanda bahaya dan membuat keputusan
2.      Telambat emcapai fasilitas kesehatan
3.      Terlambat menerima pelayanan di fasilitas kesehatan
Berdasarkan hasil penelitain yang dilakukan oleh WRI di 7 Kabupaten/Kota  menunjukkan bahwa perempuan yang hidup di lingkungan miskin cenderung memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan. Padahal persalinan dibantu oleh dukun memiliki banyak kekurangan diantaranya kekurangan air bersih, listrik untuk penerangan, tempat dan alat steril, dan obat-obatan. Namun demikian dukun beranak tetap menjadi pilihan ibu-ibu melahirkan dibandingkan oleh tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya:
1.      Kekurangan biaya. Bersalin dengan bidan membutuhkan biaya lebih mahal daripada dukun
2.      Pelayanan yang ditawarkan bidan tidak selengkap dukun. Dukun memberikan perawatan ibu hamil sejak sebelum melahirkan, saat melahirkan, hingga setelah melahirkan. Bahkan dukun ikut membantu merawat bayi baru lahir dan keluarga di ibu yang melahirkan.
3.      Dukun bayi dianggap memiliki kekuatan spiritual. Hal ini menyebabkan munculnya sugesti positif dan rasa tenang pada diri ibu yang melahirkan.
4.      Hambatan budaya yang dihadapi oleh perempuan daerah pedesaan. Beberapa daerah menganggap perempuan sebagai kaum marjinal dan bukan menjadi prioritas.
5.      Perempuan tidak memiliki hak atas tubuhnya sendiri sehingga keputusan tempat melahirkan tidak diambil oleh ibu, melainkan oleh suami dan keluarga.
Selain berbagai alasan di atas, kebijakan pemerintah juga memegang peranan sangat penting dalam pembuatan kebijakan untuk menurunkan AKI di Indonesia. Seperti yang diungkapkan IBI bahwa jumlah bidan din Indonesia mencapai 83.000 bidan yang artinya dapat memenuhi kebutuhan desa di Indonesia yang berjumlah 71.000 desa. Hal tersebut masih menjadi kendala karena bidan cenderung terpusat di sekitar Puskesmas dan RSUD yang menyebabkan sulitnya masyarakat mengakses pelayanan kesehatan oleh bidan.
Upaya pemerintah yang kurang serius dalam penurunan AKI juga terlihat dalam kebijakan Gerakan Sayang Ibu (GSI). Kebijakan ini dibuat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil di fasilitas kesehatan di seluruh desa di Indonesia. Sayangnya kebijakan ini tidak didukung dengan upaya mengatasi kendala yang dimiliki ibu hamil seperti keterbatasan ekonomi, transportasi dan akses jalan yang rusak. Hal ini dapat dibuktikan dengan sedikitnya anggaran pemerintah daerah untuk sector kesehatan, hanya kurang dari 10% dari APBD. 
Di beberapa daerah seperti Lombok Tengah dan Indramayu dapat mensiasati kecenderungan masyarakat untuk melahirkan di duku bayi, yaitu dengan membuat kebijakan bidan dan dukun bayi bermitra untuk menolong persalinan ibu. Hal ini terbukti dapat menurunkan penggunaan dukun bayi sebagai penolong persalinan hingga di bawah 20%. Kebijakan ini sebenarnya dapat ditiru oleh daerah lain untuk membantu menurunkan AKI, sayangnya pemerintah pusat lagi-lagi tidak menggunakan kewenangannya untuk menjadi kebijakan ini sebagai standar nasional sehingga pemerintah daerah bebas memilih untuk membuat kebijakan pro penurunan AKI atau tidak.

Mili dan Nathan

Kemarin malam nonton sepotong Mili dan Nathan,, seru.. dan lucu.. kehidupan memang unik ya teman, hehe.. ga bisa ditebak.. boleh jadi hari ini kita jadi orang paling bahagia, ketawa terbahak-bahak tapi besoknya langsung jd yg paling sedih nangis gerung-gerung.. 

hmm,, intinya cuma satu sebenarnya.. jangan pernah lupa sama Allah.. Jangan pernah lupa sama Allah SWT. tau ga? mau lari ke ujung dunia mana aja, Dia selalu ada buat kita, tapi kita nya aja yang suka sok2an lupa sama Allah, malah sibuk mikirin dunia tanpa pernah ngeh kalo kita dan seluruh dunia itu ada dalam genggaman dia.. 

Jangan pernah lupa baca Basmallah di setiap langkah, biar Ia ga murka sama kita, biar Allah sayang sama kita.. 
Kalo Allah sayang sama kita, apaaaa aja yg kita minta pasti dikasih.. :D

Belajar Bahasa Inggris

Ayo mulai belajar bahasa inggir, telat banget sih tapii.. ga ada kata terlambat lah buat belajar, hehehe..

iya,, yuk pulaaang yuu.. :)

Senin, 09 April 2012

film indonesia

lagi nontonin film indonesia, beberapa keren juga kok ternyata.. :)

jangan underestimate, yg paling keren sih ini, teteeeeo. hehe


Selasa, 27 Maret 2012

Alhamdulillah...

Alhamdulillah hari ini dapat rezeki jual crocs,, dapat keuntungan Rp.150.000,- terimakasih ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu.. mudahkanlah usaha hamba untuk berbakti kepada orang tua hamba, amiin..


semoga Engkau selalu ridho atas apa yang hamba kerjakan ini ya Allah, amiin.. :)

Senin, 26 Maret 2012

Gue butuh ketenangan

sebenenya gue punya 1 permintaan, ga muluk2.. cuma, gue butuh ketenangan.. entah bagaimana caranya di saat seperti ini benda langka itu bisa gue dapatkan,, pengen banget gue tenang, nyaman, damai,, kapan ya..


dalam usaha mencarinya, gue menemukan ini, katanya bisa membuat tenang,, gue suka pesan terakhir org yg nge-share video ini... "Hope you like it guys, buat yang lagi mellow ato lagi pengen menenangkan pikiran. smile :)"


Thanx ya, gue sedang berusaha mendengarkan dan semoga gue bener2 bisa tenang ya setelah mendengarkannya,, amiin


semoga kita yg lagi butuh ketenangan bisa bener2 dibuat tenang ya.. :)